Rindu

 

 Di suatu jalan aku terhenti

Menatap taman dan tempat yang biasa kau duduki

 

Di suatu waktu

Saat aku berjalan sendiri

Aku melihat wajahmu

Diantara kesibukan kota yang aku lewati

 

Aku merasa resah

Ketika ku dapati malam

Dan wajahmu tergantung disana

Tersenyum diantara awan hitam

 

Diantara sinar pagi yang menyilaukan

Aku dapat melihat

Terang sorot matamu yang berkilat

Salah Rasa

 

Beberapa hari ini kampus sedang ramai membicarakan dua orang yang di kabarkan saling jatuh cinta. Sudah taaruf dan khitbah katanya. Tapi dia tidak percaya tentang hal atau desas desus yang dia dengar dari mulut ke mulut.

Dia yakin, bahwa kabar itu hanyalah gosip murahan dari mulut mulut yang tidak bertanggung jawab. Sama seperti dulu saat dirinya di gosipkan telah dilamar oleh orang yang sama, hanya karena sering terlihat bersama. Meskipun tidak pernah hanya berdua.

“Kak, sekarang banyak yang bilang kalau Kak Fatih udah khitbah Mba Ute. Bener Ka?

Yang di tanya hanya tersenyum. Di sertai tawa yang lain.

“Ciee bulan ini mau nikah”

Seorang pria yang juga temannya ikut nimbrung  sambil meledek.

“Nanti Zizah patah hati deh”

Yang lain mengejek lagi.

Tapi Fatih hanya tersenyum tipis. Tidak mempedulikan ledekan dari temannya. Juga tidak menjawab pertanyaannya.

“Jadi, kita mulai saja diskusinya sekarang ya.”

Zizah menghela nafas kecewa. Pertanyaannya menggantung di udara setelah Fatih memutuskan untuk menyudahi obrolan ringan dan memulai diskusinya.

Sebulan berlalu. Kabar itu kembali mereda. Zizah merasa lega karena berarti kabar itu memang gosip belaka. Dia yakin, jikapun Fatih ada rencana menikahi wanita, pastilah dia akan di beri tau oleh Fatih sendiri. Tapi entah kenapa dia lebih yakin bahwa wanita yang bakal Fatih pilih adalah dirinya sendiri.

Minggu minggu ini dia merasa sulit untuk menemui Fatih. Whatsappnya jarang aktif. Di kampuspun jarang terlihat. Dan sore ini kata temannya Fatih akan datang. Diapun mengambil handphone dan membuka whatsapp.

Fatih online.

 

-sibuk?

-iya. Maaf ya.

-kapan ke kampus?

-ini udah di parkiran

Dia menghela nafas lega. Hatinya merasa lebih baik karena akan bertemu dengan Fatih.

-oya Zah. Aku mau cuti kuliah. Mau ke Bengkulu nanti.

-kapan?

-lusa mungkin

-ada acara apa?

-Orangtua Ute mau acara akad nikahnya disana. Tapi mungkin resepsinya di Jakarta.

 

Zizah merasa ada ledakan dalam hatinya. Dia merasakan tubuhnya tidak bertenaga setelah membaca pesan dari Fatih.

Masih ada jam kuliah. Harusnya dia berjalan dari kantin menuju kelas. Tapi dia malah menuju gerbang. Pulang.satu satunya hal yang bisa dia lakukan.

Dia berjalan tanpa melirik atau menghiraukan sapaan temannya.

Dia bertemu Fatih di jalan saat menuruni tangga.

“Zah, kenapa?”

Tapi dia hanya menatap kosong ke arah Fatih. Mulutnya terkunci.

“Zah, ada masalah?”

Airmatanya sekarang mengalir. Ziziah masih berdiri di depan Fatih. Mematung. Dan tidak mengerti harus apa atau bagaimana.

“Zah kalau ada masalah bisa cerita.”

“Masalahnya, Kak Fatih mau nikah sama Mba Ute.”

Setelah mengucapkan kalimat itu Zizah pergi. Dan Fatih hanya terdiam. Sama terkejutnya dengan Zizah saat ini.

 

Di dalam angkot Zizah menerima whastapp dari Fatih. Tapi hanya dilihatnya saja. Tidak dibaca. Dia merasa apapun yang di tulis Fatih akan membuatnya menangis. Dan angkot ini bukan tempat yang baik untuk menangis.

Tetaplah berdoa, mungkin doa  tidak bisa mengubah keadaan ini. Tapi Allah selalu mendengarkan.. Barangkali doa bisa mengubah perasaanmu. Menjadi lebih ikhlas.

Dia kembali mengulangi akhir kalimat yang baru saja dia baca. IKHLAS.

Barangkali dia memang harus mengikhlaskan segalanya. Mengalah pada takdir yang saat ini di rasa terlalu sepihak. Tapi dia tau betul bahwa tidak ada Takdir yang sepihak. Takdir sudah tertulis bahkan jauh sebelum dia mengenal sosok pria yang baru saja mengiriminya pesan singkat melalui whatsapp.

Allaah… Allaah…. Astaghfirullah…. Ya Allaah….

Gumamnya tiada henti. Tangannya memeluk erat lutut. Pipinya basah di linangi airmata. Dia terduduk disamping dipan dikamarnya.

Ikhlaas, ikhlas ya Allah ikhlas..

Tapi sekarang dia tidak mengerti apa itu ikhlas. Bahkan dia mulai ragu pada kata katanya sendiri yang selalu diucapkan pada temannya ketika berada dalam masalah.

Apakah benar takdir selalu baik? Tapi kenapa begini ya Allaah…

Airmatanya tak henti mengalir. Dengan erat dia mencengkram ujung roknya. Dia tau ini bukan mimpi. Tapi dia berharap ini adalah mimpi. Hanya sebatas mimpi buruk.

Didengarnya sebuah ketukan pintu. Tapi dia sedang tidak ingin bertemu siapapun. Dan apapun alasannya. Tapi pintu itu terus diketuk. Bahkan lebih dari tiga kali. Padahal di pintu kamar kosnya tertulis jelas  “Jika tiga kali ketukan belum dibuka, berarti orangnya tidak ada”.

Dia bangkit, membenahi kerudungnya. Mengelap pipinya. Memasang senyum sebisanya. Walaupun dia tau, orang yang melihatnya pasti akan tau. Bahwa dia telah menangis.

”Zizah…”

Dia cukup kaget melihat sosok wanita yang seharusnya ada di kampus tapi saat ini ada di depan kamar kosnya. Memanggil namanya.

“Ulfa, bukannya sekarang jam kuliah?”

Dia berusaha untuk menormalkan suaranya. Tapi tidak bisa. Terlebih saat melihat sosok yang datang adalah karibnya sendiri. Dia ingin segera memeluknya. Menangis dalam pelukannya. Dan menceritakan semuanya. Tentang menghadapi takdir yang ternyata tidak semudah mengatakannya. Dan tentang ikhlas yang ternyata amat sulit menjalankannya.

Setelah mempersilahkan masuk dia duduk di ranjangnya. Begitu juga dengan karibnya. Mereka berdua hening. Tak ada yang membuka pembicaraan. Barangkali karibnya tau tentang apa yang sedang terjadi. Takdir yang baik sedang terjadi, tapi karena sekelumit perasaan semua jadi terasa menyakitkan. Padahal di tempat yang lain yang jauh dari jangkauannya, orang lain sedang berbahagia. Menikmati takdirnya.

“Dosen ngga masuk. Jadi aku pulang lebih awal.”

Ulfa memecah keheningan denga  suaranya. Zizah hanya mengangguk tanpa bersuara. Sebelum sunyi menguasai mereka lagi, Ulfa mengambil selembar undanga dari tasnya.

 

“Dapet titipan dan Kak Fatih”

Airmatanya kembali mengalir. Kali ini tidak dia hentikan. Dia biarkan airmatanya tumpah. Zizah mengerti titipan apa yang sahabatnya maksud. Dia membiarkan kesedihannya ikut tumpah bersama airmata.

“Aku udah berubah, karena dia Ul. Aku lakuin apa yang dia bilang baik. Nasehatnya, kata katanya, hampir semuanya aku lakuin. Dia bilang wanita lebih baik pakai rok, atau gamis. Oke, aku nggak lagi pakai celana jeans. Dia bilang kalau kerudung harus nutup dada. Akupun berubah. Aku jalanin nasehatnya. Dan kamu liat sendiri perubahannya Ul. Tapi kenapa begini?”

Dia menangkupkan telapak tangannya ke dalam wajah. Enggan menatap karib yang duduk disampingnya. Keduanya kembali terdiam. Memberikan jeda untuk Zizah menenangkan hatinya.

“Yang terjadi sekarang ini, bukan salah Kak Fatih. Bukan juga salah takdir. Sesuatu yang bukan takdirmu tidak akan terjadi walaupun kamu setiap hari berdoa untuk meminta. Bukan karena Allah ngga tau kemauan kamu Zah. Tapi karena bukan itu yang terbaik buat kamu”

Ulfa memeluk karibnya. Membiarkan kerudungnya basah terkena airmata.

“Ini memang berat Zah, tapi Kak Fatih juga nggak pernah janjiin kamu apa apa. Dia Cuma jawab apa yang kamu tanyain, dan ngasih apa yang kamu butuhin. Nasehat, dukungan, motivasi dan pelajaran. Itu yang dia kasih. Tapi kamu menanggapinya dengan sudut yang berbeda.”

Cinta Itu Nyata

Merasakan kehadiranmu adalah satu satunya hal yang membuatku bahagia. Meski aku tau karenanya aku di anggap gila. Tak apa, tidak ada salahnya kan? Karena tetap menganggapmu ada adalah hal yang menyenangkan. Meski disaat yang bersamaan aku harus merasakan kegetiran. Kegetiran yang amat menyedihkan. Mungkin dia menganggap aku perlu dikasihani. Gadis kesepian yang butuh empati. Tidak, ku mohon.. kau jelaskanlah padanya. Bisikkanlah sesuatu padanya lewat angin yang berhembus. Bahwa kau memang ada. Menemani tiap langkahku. Dan datang saat aku dalam kesepian.

Aku tidak pernah sendirian. Selalu ada kamu disaat aku membutuhkan. Aku tau, kaulah yang mengikutiku. Kemanapun aku pergi. Kaulah yang selalu membututiku disaat kaki ini melangkah dengan putus asa. Kau menggenggam erat jemariku. Memberi kehangatan yang selalu berhasil membuatku bertahan. Membuatku kembali bersemangat untuk melakukan perjalanan. Perjalanan panjang hidup ini.

Kenapa mereka dan dia bilang aku tidak pernah memiliki teman? Bukankah kau adalah temanku? Kenapa dia selalu berkata aku terlihat kesepian dan menyedihkan? Bukankah ada kau yang selalu jadi hiburan? Dan, ada kau selalu disisiku. Bahkan hampir setiap malam, kau datang untuk mengucapkan selamat malam. Datang dengan mengendap endap, melewati pagar rumah dan mengetuk pintu jendela kamarku.

Tapi, kenapa kau biarkan aku seperti ini? Kau biarkan aku terlihat sendiri saat tangan hangatmu merangkul bahuku. Kenapa kau biarkan aku terlihat kesepian, bahkan disaat aku ssedang tersipu mendengar pujian dan melihat tawa riangmu?

—————-

“Dia tidak pernah ada. Orang yang kamu anggap sebagai satu satunya temanmu itu tidak ada. Itu hanya halusinasi kamu”

Kata katanya seperti mensusuk dadaku, sakit sekali rasanya. Kenapa kau selalu pergi ketika dia datang? Apa kau tidak mau menampakkan wajah cemburumu? Untuk pertama kalinya aku menangis karena mu. Karena kamu selalu meninggalkanku saat ia datang. Aku tak pernah keberatan orang lain menganggap aku gila karenamu. Tapi entah apa yang terjadi, dianggap gila olehnya menjadi sangat menyakitkan. Dan aku merasa menderita.

“Percayalah, kamu butuh aku! Berhentilah menghayal. Selama ini aku yang selalu memperhatikanmu dari jauh. Selama ini aku yang selalu mengirimmu doa doa, agar angin dan malam bersedia menjadi teman malammu. Dan sekarang aku tidak tahan me lihat kamu begini terus. Aku mohon, aku begini karena aku sayang sama kamu”

Dan untuk pertama kalinya kau muncul dihadapanku saat aku dan dia berdua. Tapi tetap saja, hanya aku yang bisa melihatmu. Melihat keteduhan wajahmu. Dan merasakan ketenangan dalam matamu.  Apa semua orang buta hingga tidak bisa melihatmu? Atau… siapa kamu sebenarnya? Kenapa kau mesti begini? Membuat aku terlihat gila.

Untuk pertama  kalinya juga, tangannya membelai lebut rambut panjangku yang terurai. Selain kamu, tak pernah ada lelaki lain yang ku biarkan menyentuh bagian dari tubuhku. Meskipun hanya jari. Dan sekarang, entah apa yang terjadi. Aku biarkan dia membelai rambutku dan menarik tubuhku ke dalam pelukannya. Dan kau, hanya diam.

Aku ingin sekali menjelaskan tentang kehadiranmu dihadapanku. Dibelakang lelaki yang saat ini memelukku. Tapi kenapa kau justru pergi. Samar, dan kemudian menghilang. Benar benar menghilang.

“Kamu bakal baik baik aja sama aku. Kamu gak akan pernah kesepian lagi. Karena ada aku. Tolong jangan menolak”

Dan aku melepasnya. Aku memanggil namamu dengan isak tangis yang menyedihkan. Aku sendirian, aku mohon datanglah. Berikan penjelasan pada pria ini, bahwa aku waras. Kamu ada, kamu selalu menemaniku. Dan aku bukan gadis kesepian. Katakan pada psikiater sok tahu ini. Bahwa kau adalah temanku yang nyata. Karena aku pernah memelukmu disaat aku menangis sendirian. Kau pernah menggandeng tanganku saat aku menangis dijalanan.

Dan kau benar benar tak pernah kembali. Pelukannya membuatku semakin terluka. Aku menangis, entah karena apa. Menangisi kepergianmu dan panggilanku yang tak terjawab? Atau menyadari ketiadaanmu selama ini?

Aku biarkan tubuhku tumbang dalam pelukannya. Di ruang kotak yang cukup luas dengan nuansa putih yang menyenangkan. Disudut sana, ibuku tersedu. Aku benci tempat ini. Hanya saja karena ibu, aku selalu mau saat di ajak kesini.

Dan akhirnya setelah berhari hari, aku sadar akan satu hal yang masih membingungkan. Kau pergi, tak kembali. Atau orang orang benar, bahwa kau memang tidak ada. Aku benci memikirkannya.

Tapi genggaman tangan pria itu, selalu membuatku tenang. Meski aku terluka. Merenungi banyak hal tentang kegilaan aku denganmu. Dengan ketiadaanmu yang aku anggap ada disisiku selama ini.

Satu bagian dalam hatiku, sampai hari ini masih menganggapmu ada. Dan sebagiannya selalu berfikir bagian yang aku benci. Menentang sebagian hati yang lainnya. Mencoba  meyakinkan otakku, bahwa kau tidak pernah ada. Bahwa kau hanya hayalanku saja. Hayalan karena selama ini aku kesepian. Dan sampai bagian ini, aku selalu menangis. Menemukan jalan buntu. Tidak mengerti bagian mana yang harus aku percaya.

Dan meskipun berbulan bulan telah berlalu, kau benar benar tak pernah lagi muncul dihadapanku. Aku benci, kadang aku berfikir mungkin kau marah dihari itu. Ketika dokter itu memelukku. Membelai rambutku. Kau seharusnya tidak menghilang begini. Kata sebagian hatiku. Dan aku juga menginginkan hal itu. Meski sebagian kadang menolak.

Aku harus menjelaskan padamu, dia temanku. Teman kecilku. Satu satunya orang yang mau memberikan senyum ramahnya kepadaku. Dulu. Dan setahun berlalu, kau tak prnah lagi muncul dihadapanku. Tidak juga dalam mimpiku. Dan gantinya dia selalu datang kerumah. Membawawa bunga dan kue kue untuk aku makan. Selama itu, aku hanya membisu. Entah, tidak mengerti apa yang aku fikirkan. Tapi aku mulai nyaman. Tanpa kehadiranmu. Dan dengan kedatangannya.

Purnama Di Villa

Malam begitu indah untuk dilewatkan begitu saja. Bulan bulat sempurna. Langit cerah dengan banyak bintang yang menghiasinya. Hawa dingin menembus mantel. Membuatku memeluk diri sendiri. Ternyata lebih indah memandang purnama disini. Di Villa yang telah disediakan kantor. Di kawasan Puncak, Bogor. Ini bukan week end. Bukan juga liburan. Aku datang kesini karena ada rapat. Tugas, dan dalam rangka pekerjaan. Tapi ini menyenangkan. Liburan disela sela pekerjaan. Lumayan, untuk menghilangkan penat di kantor.

Aku duduk di teras penginapan. Lima menit berlalu, membuat teh yang tadinya mengepul menjadi dingin. Aku menyukai momen seperti ini. Damai. Walaupun banyak tugas tugas kantor yang menunggu untuk di selesaikan segera, tapi dalam suasana seperti ini tak membuatku menjadi stress. Seandainya saja suasana di Ibu Kota juga seperti ini. Aku melirik laptop yang masih menyala. Seharusnya aku juga fokus dengan pekerjaan sekarang. Tapi pemandangan di langit sana membuatku lalai dengan tugas.

Aku menghela nafas. Menyerah mempertahankan keinginan untuk tetap memandang langit. Aku meraih laptopku dan mulai menyelesaikan beberapa tugas dan menyiapkan materi untuk rapat besok pagi.

Handphoneku berbunyi. Menandakan ada sebuah pesan singkat yang masuk. Aku meraih handphone yang terletak di sofa sebelahku.

Bisa keluar?

Aku terdiam bingung. Tidak mengenali nomor yang baru saja mengirim pesan.

Aku sudah di luar. Di depan pintu tempatmu menginap.

Aku semakin bingung. Terlebih saat dia tau aku sedang menginap. Aku masih enggan untuk bangkit dan membuka pintu atau membalas sms dan bertanya siapa ini? Tapi tak lama pintu di ketuk. Aku ragu untuk membukakan pintu. Tapi ada perasaan penasaran yang mendorongku untuk bangkit dan membuka pintu.

Aku tidak menyangka akan mengalami hal ini dalam hidupku. Aku pernah menginginkannya. Bahkan selalu mengingingkannya. Tapi selama bertahun tahun, yang aku tau keinginanku adalah hal yang mustahil dan tidak masuk akal. Sampai aku mengalami ini. Aku tidak tau harus berkata apa. Aku juga tidak tau, saat ini aku menangis untuk bahagia atau justru sebaliknya. Menatap wajahnya sedekat ini, seperti mengorek luka lama yang baru saja akan sembuh. Perih.

“Maaf”

Hanya itu katanya. Dan dia diam lagi untuk waktu yang lama. Aku masih memandanginya. Aku berharap dia tidak sekedar mengucapkan kata maaf. Aku berharap dia mengucapkan banyak kata lagi. Kata kata yang bisa meredakan apapun yang sedang bergemuruh dalam hatiku sekarang. Dan karena itu, aku tidak bisa berkata apapun. Sepatah katapun.

“Aku nggak tau, harus bilang apa. Aku tau aku salah. Tapi tolong maafkan aku”

Aku masih menatapnya tak percaya. Berharap dia bicara lagi. Tidak sekedar kata maaf. Apapun, penjelasan yang selama ini aku tunggu, atau apapun. Apapun yang mampu meredakan perasaan  ini. Dia memelukku. Menyembunyikan wajahku seperti saat terakhir kali dia memelukku dan kemudian meninggalkanku. Tanpa menjawab pertanyaanku. Tanpa menjelaskan bagaimana kelanjutan hubungan itu. Hingga enam tahun berlalu dan tiba tiba dia datang di depanku. Meminta maaf.

Aku mematung untuk sekian menit. Pasrah dalam pelukannya. Aku berdoa semoga tidak ada yang melihat adegan ini. Sampai aku menarik diri. Sebenarnya aku ingin berbalik. Menyuruhnya pergi dan menutup pintu. Tapi tidak. Bukan itu yang aku lakukan. Hatiku mendambanya, mendamba jawabannya dan membutuhkan penjelasannya.

“Masuk”

Hanya itu yang mampu aku ucapkan. Aku masuk dan dia mengikutiku. Aku duduk di sofa yang memanjang di teras villa. Memandang rembulan yang sedang dalam posisi sempurna untuk dibilang indah.

“Aku tau kamu disini”

Katanya membuka mulut.

“Tau darimana?”

Aku mengatakannya dengan nada datar.

“Aku kebetulan lagi ada tugas juga disini. Aku juga nginep disini.”

“Terus?”

“Aku tau, aku punya salah. Aku belum menjelaskan apapun.”

“Jelaskan sekarang”

“Vin, aku minta maaf.”

“Rey, maaf gak cukup. Bertahun tahun kamu pergi. Tanpa kejelasan. Dan kalau kamu dateng Cuma buat minta maaf itu percuma. Jauh sebelum ini aku udah mutusin buat maafin kamu. Apapun alasannya.”

Lalu hening kembali menguasai kami. Entah apa yang Rey fikirkan saat itu. Aku hanya bisa menebaknya, mengira ngira. Mungkin dia sedang memilah kata yang pas untuk memulai semuanya. Penjelasan yang aku tunggu selama enam tahun.

“Vin, aku tau aku salah. Waktu itu aku ninggalin kamu. Dan demi apapun aku gak sanggup buat mutusin kamu. Kamu terlalu baik buat nerima kenyataan itu. Kenyataan kalau ada orang lain diantara kita. Ada cewek lain selain kamu. Dan bodohnya aku lebih memilih dia.  Aku milih buat pergi tanpa ngasih tau kamu, Tanpa penjelasan apapun. Mungkin itu jauh lebih baik buat kamu”

Ya Tuhan….. inikah yang harus aku dengar setelah enam tahun menunggu? Menyedihkan sekali. Enam tahun terlewati sia sia hanya untuk mendengar penjelasan dari lelaki bejat ini.

“Aku nggak nyangka, bakal begini. Aku denger dari Tio kalo selama enam tahun ini kamu masih jomblo. Dan Tio juga bilang kalau kamu masih berharap bisa ketemu aku dan ngasih penjelasan tentang semuanya.”

Jadi Tio tau? Sahabatku, teman sekantorku tau. Dan dia cuma diam?

Aku masih terdiam. Kenyataan yang selama enam tahun aku ingin ketahui kebenarannya tidak lebih baik dengan enam tahun yang ku lewati dengan harapan dan angan yang menyakitkan. Percuma menyimpan perasaan ini. Mempertahankan rasa sayang yang ternyata hanya ini balasannya.

“Cukup”

Kataku.

“Silahkan keluar, dan pergi”

“Viin…”

“Kamu butuh maaf? Sudah lama aku memaafkannya. Dan aku butuh penjelasan. Kamu juga sudah memberinya. Sekarang kita nggak ada urusan apapun lagi”

Aku berdiri menuju pintu dan membukanya. Melirik Rey yang masih tertunduk. Aku memandanginya tanpa berkata apapun. Diapun berdiri dan pergi.

Aku kembali duduk di sofa. Memandang ke sebelahku seolah Rey masih ada disana. Aku menautkan jari jari di tanganku. Menunduk dan menangis. Betapa aku merasa sia sia dan bodoh. Wanita mana yang mau menunggu enam tahun untuk kejelasan hubungan yang ditinggalkan begitu saja? Dan demi kata setiaku pada Rey. Aku menghabiskan enam tahun yang panjang dengan perasaan yang begitu begitu saja. Tiap malam sedih, melamun, dan tiap malam pula aku menghayalkan Rey datang dan menjelaskan segalanya. Berharap penjelasan itu membuatku merasa jauh lebih baik. Membuat hubunganku dengan Rey bisa kembali seperti dulu lagi.

Dan hari ini, tepat saat purnama terlihat sempurna. Kenyataannya tak seindah apapun yang aku harapkan. Aku menghela nafas panjang. Menarik kata kataku lagi. Tidak, ini tidak buruk. Ini lebih baik. Besok aku bisa berdandan lebih cantik. Menebar seyum manis dan mulai berfikir untuk mencari pengganti Rey.

Jadilah

Jadilah dia menjadi resah

buah dari desah sebelum terucap sah

 

Jadilah ia sebongkah sesal

Sebab kesal dibiarkannya tinggal

Dan, hilanglah akal

 

Jadilah kau merasa pilu

Hatimu yang merengek rindu

Tak juga diberi temu

 

Jadilah kau teman

Mendengarkan, pedulikan

Dan jangan biarkan ia lapar tanpa makanan

Bagi nuranimu

Sebelum ia mati dan membunuh hati

Jadilah teman

Untuk nurani

Sebelum ia pergi

Dan hidupmu akan mati sebelum mati

Pindah

​Tanganku melambai ke arah taksi dengan perasaan lega. Akhirnya setelah hampir setengah jam menunggu, ada juga taksi kosong.
“Kemana mba?”
“Jalan Ibnu Armah, Gandul”
“Dari perempatan, terus kemana?”
“Ke kiri kalau dari Cinere”
Aku menghela nafas panjang. Meskipun sebenarnya tidak terlalu jauh jarak dari Sawangan sampai ke rumah. Tapi di jam jam seperti ini, aku yakin bisa sampai 1 jam lebih jarak tempuhnya.
Tidak ada perbincangan lagi. Sepertinya supir taksi ini bukan tipikal orang yang suka berbasa basi. Akupun diam. Lelah seharian membantu Paman pindahan. Dan lelah menyimpan ketakutan ini.
Ketakutan yang berhari hari menyesakkan dada. Yang membuatku merasa berat untuk memejam mata. Tidak terasa, mataku memanas. Dan hampir saja menangis.
Paman pindah rumah begitu mendadak. Dan menjual rumah lama dengan harga yang tidak semestinya. Itu terlalu murah menurutku. Tapi, aku mengiyakan saja. Sebab aku tau, paman sudah tidak betah disini. Dan aku tidak tau apa sebabnya.
Aku lahir disana, tumbuh besar dan banyak belajar disana. Rasanya berat untuk pindah. Meski tidak terlalu jauh, tapi rumah itu terlalu banyak kenangannya untuk di tinggalkan.
Dan malam ini, aku memutuskan untuk tidur disana. Kembali kamar yang telah dua puluh dua tahun aku tiduri. Dan selama itu tidak ada yang berubah. Boneka boneka masa kecilku yang dibelikan Papah dan Mamah masih ada. Dan belum aku pindahkan.
Ketika membuka pagar, aku teringat betapa dulu aku sangat bahagia bersama mendiang Mamah dan Papah. Rumah ini dibangun dengan kerja keras mereka. Sampai Papah sakit sakitan dan akhirnya Mamah memutuskan menjualnya ke Paman. Memberikan semuanya kepada Paman. Dan tak lama, Mamah Papah pergi. Tak pernah kembali lagi untuk menjemputku. Mereka tenang, dan terlalu tenang di rumah terakhirnya.
Mataku memanas mengingat kejadian kejadian penting dalam hidupku. Dan sebagian besar terjadi disini. Dirumah ini. Aku gontai melangkah ke kamar. Merebahkan badan dikasur yang selalu aku rindukan. Tapi nanti tak bisa aku tiduri lagi. Paman menjual dengan sebagian isinya. Dan sungguh ini berat untuk aku lalui.
***

Seorang lelaki tua datang dengan tiba tiba. Menarik tanganku yang hendak mengambil gelas. Wajah dan tangannya penuh darah. Bau anyir menyengat. Membuat jantungku berdetak tidak beraturan. Aku berteriak. Meminta tolong. Tapi aku ingat, di lantai atas rumah ini, maupun dibawah tidak ada siapa siapa lagi. Rumah besar ini hanya dihuni aku seorang malam ini.
Aku menarik tanganku, berteriak histeris. Menangis. Takut. Sungguh. Wajahnya yang sudah keriput dipenuhi darah. Aku tidak mengenalinya. Tangannya yang dingin dengan kencang mencengkram tanganku. Darahnya menempel di tanganku.
Aku berlari ke bawah. Buru buru, jatuh. Bangun lagi. Tapi Pak tua itu lari lebih cepat. Menarik rambutku dengan kasar. Sekarang aku melihat lebih dekat wajahnya. Pucat, bibirnya biru saking pucatnya. Aku makin histeris. Lari. Dan jatuh.
****
Bunyi alarm membangunkanku. Aku terengah engah. Membuka mata, dan memandang sekitar. Syukurlah aku dikamar. Tapi siapa yang memindahkan aku? Aku segera berlari keluar kamar. 

Sepertinya semua baik baik saja. Dan aku hanya mimpi buruk.
Aku akan segera mandi. Membereskan semua boneka dan pergi ke Sawangan. Rumah baru paman.
Tanganku perih terkena sabun. Aku perhatikan, ada luka baret di pergelangan tangan. Aku yakin, kemarin tidak ada apapun yang membuat aku terluka. Kecuali mimpi semalam. Dan tangan ini, adalah tangan yang di cengkram orang itu dalam mimpi.
Aku buru buru menyelesaikan mandi. Bergegas agar cepat keluar dari rumah ini. Perasaan itu datang lagi. Takut. Gemetar. Dan ini yang tidak biasa. Aku mual. Bau anyir, bau busuk. Dan bau yang sangat mengganggu. Tapi aku tidak peduli. Hatiku dan tubuhku ingin cepat keluar dari rumah ini.
Aku membuka pintu kamar mandi. Melangkah dan seketika rasanya aku ingin pingsan. Ini bukan mimpi. Bukan. Lelaki tua itu meringkuk disamping pintu. Darah dimana mana. Aku Berteriak. Tapi urung karena lelaki itu memandangku. Tatapannya memelas.
“Tolong aku…”

Katanya lirih.
Dan kemudian semua gelap.
Aku merasa ada di dunia lain. Semua tampak aneh. Aku bigung kenapa aku ada disini. Sendiri. Malam terlalu gelap dan sepi. Aku mengenali jalanan ini. Mengenal betul daerah ini. Ini adalah kawasan yang akan di jadikan jalan tol Antasari-Depok. Semua rumah sudah rata dengan tanah. Kawasan ini jadi sepi mendadak saat terjadi penggusuran masal.

Pembangunan sudah mulai. Tapi ini mungkin sudah sangat larut. Hingga tidak ada satupun pekerja yang terlihat. Dari arah utara, datang mobil dengan cepat. Aku mengenal mobil itu. Itu mobil Paman. Saat lewat di depanku, aku melambai tangan. Memanggilnya. Tapi Paman sama sekali tak menggubrisku.
Tak lama terdengar suara klakson panjang. Bersamaan dengan suara ban yang berdecit. Teriakan. Dan aku lari secepatnya. Paman…. aku melihat paman bersimbah darah di luar mobil. Bukan darah paman. Tapi darah orang lain. Paman menabrak seseorang. Tetes pertama jatuh. Paman menangis. Aku hendak menolong paman dan orang itu. Tapi aku tidak bisa melakukan apa apa. Bahkan aku berteriak kencang meminta bantuanpun, Paman seperti tak mendengar.
Hujan turun. Deras. Paman melihat kondisi sekitar. Susah payah menggendong orang itu. Dan yaa Tuhan!! Orang itu orang tua yang bersimbah darah dirumah.
Paman memasukkan orang itu dalam mobil. Aku mengikutinya. Duduk di samping paman. Aku fikir Paman akan membawanya ke rumah sakit. Tapi tidak. Paman membawanya kerumah. 

Menguburnya di halaman belakang rumah. Menyamarkannya dengan tumpukan pot yang dijejer rapi.

Tuhan…. inikah sebabnya?